Sekolah holistik Qurani memandang pendidikan anak usia dini sebagai proses menumbuhkan seluruh potensi anak secara seimbang, meliputi aspek spiritual, akhlak, sosial, emosional, kognitif, dan fisik. Salah satu nilai karakter utama yang perlu dibangun sejak dini adalah kemandirian. Pada jenjang Taman Kanak-Kanak, kemandirian menjadi fondasi penting dalam membentuk pribadi anak yang percaya diri, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia.
Kemandirian anak adalah kemampuan anak untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan tahap perkembangannya tanpa ketergantungan berlebihan kepada orang lain. Dalam konteks pendidikan holistik Qurani, kemandirian tidak hanya berkaitan dengan kemampuan fisik, seperti makan, berpakaian, atau merapikan barang sendiri, tetapi juga mencakup kemandirian sikap, seperti berani mencoba, mampu mengendalikan emosi, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Usia Taman kanak-kanak merupakan masa emas pembentukan karakter. Pada masa ini, anak belajar memahami dirinya dan lingkungannya. Melatih kemandirian sejak dini mampu membantu anak mengenal potensi dirinya, meningkatkan rasa percaya diri, dan membentuk kebiasaan positif yang akan terbawa hingga jenjang pendidikan selanjutnya. Dalam nilai-nilai Islam, setiap individu diajarkan untuk bertanggung jawab atas amanah yang diberikan, termasuk amanah terhadap dirinya sendiri. Oleh karena itu, melatih kemandirian anak sejak Taman Kanak-kanak menjadi bagian penting dari pendidikan karakter Islami.
Keberhasilan pembentukan kemandirian anak tidak terlepas dari peran guru dan orang tua. Guru di sekolah berperan sebagai pendidik, teladan, dan pembimbing yang menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung. Sementara itu, orang tua melanjutkan pembiasaan kemandirian di rumah. Sinergi antara sekolah dan keluarga sangat diperlukan agar anak mendapatkan contoh dan pembiasaan yang konsisten.
Kemandirian dapat mulai dilatih sejak anak usia dini dan diperkuat pada jenjang Taman kanak-kanak. Pembiasaan ini dilakukan secara berkelanjutan baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitar anak. Di PG-TK Al-Irsyad yang menerapkan holistik Qurani, kemandirian dilatih melalui kegiatan sehari-hari seperti mengurus perlengkapan pribadi, antre (menunggu giliran) dengan tertib, menyelesaikan tugas sederhana, berdoa dengan tertib, serta bertanggung jawab terhadap pilihan dan perilakunya.
Melatih kemandirian anak dilakukan secara bertahap, penuh kesabaran, dan sesuai dengan fitrah anak. Guru dan orang tua memberikan contoh yang baik, memberi kesempatan anak untuk mencoba, serta membimbing dengan bahasa yang lembut dan positif. Anak juga diajak memahami bahwa setiap usaha adalah bagian dari proses belajar dan bernilai kebaikan. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan bernuansa Qurani, anak akan merasa aman, dihargai, dan termotivasi untuk belajar mandiri. Manfaat melatih kemandirian anak sejak Taman kanak-kanak Menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab, membentuk karakter disiplin dan amanah, mengembangkan kemampuan sosial dan emosional, membiasakan anak menyelesaikan masalah sederhana, mempersiapkan anak menghadapi jenjang pendidikan berikutnya, menanamkan nilai bahwa usaha dan tanggung jawab adalah bagian dari ibadah. Kemandirian merupakan bekal penting bagi anak dalam menghadapi kehidupan di masa depan. Melalui pendidikan holistik Qurani, kemandirian anak dilatih tidak hanya sebagai keterampilan hidup, tetapi juga sebagai bagian dari pembentukan akhlak dan karakter Islami. Dengan pembiasaan yang konsisten di sekolah dan di rumah, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab, serta siap menjalani kehidupan dengan nilai-nilai keimanan dan akhlak mulia
Category: Image, Text, Uncategorized
Rutinitas harian merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan anak-anak, karena dapat memberikan dampak positif serta membantu mereka merasa aman dan nyaman. Menurut para ahli, rutinitas tidak hanya mengatur jadwal sehari-hari, tetapi juga berperan besar dalam pembentukan karakter anak, seperti disiplin, tanggung jawab, empati, dan kemampuan mengatur emosi. Anak-anak yang memiliki rutinitas cenderung lebih mampu belajar mandiri, dan berinteraksi sosial dengan baik. Hal ini karena rutinitas mampu menciptakan lingkungan yang stabil, di mana anak tahu apa yang mereka harapkan, sehingga mengurangi kecemasan dan meningkatkan fokus pada aktivitas yang bersikap positif.
Rutinitas harian sangat berperan penting dalam berbagai aspek perkembangan anak. Rutinitas dapat membantu membangun keterampilan yaitu kemampuan anak untuk mengidentifikasi dan mengelola emosi mereka. Anak dengan rutinitas tetap serta konsisten di rumah dan di sekolah memiliki keterampilan mengendalikan diri yang lebih baik, serta menjadi fondasi kesehatan mental yang kuat.
Rutinitas harian siswa-siswi PG-TK Al-Irsyad dimulai sejak siswa tiba di sekolah. Ananda disambut oleh guru, menjawab salam. Meletakkan sepatu pada rak yang telah disediakan, dan meletakkan tas di dalam kelas. Setiap pagi siswa-siswi memulai kegiatan dengan berdo’a dan murajaah surat-surat pendek. Siswa-siswi terlibat dalam rutinitas merapikan kelas, seperti merapikan mainan, mengembalikan buku dan alat tulis pada tempatnya. Rutinitas ini dilakukan untuk membangun kebiasaan yang baik. Kegiatan terjadwal untuk rutinitas makan, bermain, belajar, dan istirahat, untuk mendorong kemandirian dan tanggung jawab anak. Rutinitas juga mendukung perkembangan sosial-emosional dan kognitif. Anak dapat belajar tentang kesabaran, empati, serta interaksi sosial melalui aktivitas terencana. Aktivitas terencana yang mendukung perkembangan social yang kami terapkan di sekolah diantaranya yaitu antre saat cuci tangan, bersabar menunggu giliran saat bermain atau berkegiatan, berbagi dan bermain bersama. Dalam menerapkan rutinitas kami sesuaikan dengan usia anak.
Adapun rutinitas yang dapat Ayah dan Bunda lakukan di rumah diantaranya rutinitas waktu tidur yang konsisten atau makan bersama keluarga dapat membantu anak belajar mengatasi tantangan dan stres sehari-hari. Rutinitas bangun tidur, sikat gigi, sarapan bersama, mengerjakan tugas rumah, olahraga, pekerjaan rumah tangga dan persiapan kesekolah. Hal ini dapat membangun sikap disiplin dan tanggung jawab. Dengan rutinitas tersebut anak dapat memahami tanggung jawab mereka, seperti membersihkan mainan setelah bermain atau membantu menyiapkan meja makan, yang membuat mereka lebih kooperatif. Selain itu, rutinitas mendorong kerjasama dan perilaku positif.
Secara perkembangan kognitif rutinitas dapat membantu anak memahami urutan peristiwa, yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis dan pengambilan keputusan. Studi menunjukkan bahwa rutinitas terkait dengan hasil positif dalam keterampilan akademik dan megendalikan diri serta kesejahteraan secara keseluruhan. rutinitas memberikan rasa aman emosional yang menjadi pondasi untuk anak berkembang dengan percaya diri dan mandiri. Rutinitas harian adalah alat yang ampuh untuk membentuk karakter anak yang kuat dan seimbang. Rutinitas tidak hanya mengurangi perilaku negatif tetapi juga membangun fondasi untuk kesuksesan jangka panjang. Rutinitas harian memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan perkembangan anak secara menyeluruh. Melalui rutinitas yang konsisten dan sesuai usia, anak dapat belajar disiplin, tanggung jawab, kemandirian, serta kemampuan mengelola emosi dan berinteraksi sosial dengan baik. Rutinitas yang diterapkan baik di sekolah maupun di rumah memberikan rasa aman dan nyaman, sehingga anak mampu fokus pada kegiatan positif dan mengurangi kecemasan. Selain mendukung perkembangan sosial-emosional, rutinitas juga berkontribusi pada perkembangan kognitif dan kesiapan akademik anak. Oleh karena itu, penerapan rutinitas harian yang terencana dan berkelanjutan menjadi fondasi penting bagi pembentukan karakter anak yang kuat, seimbang, dan berdaya guna di masa depan.
Category: Image, Uncategorized
(Integrasi Nilai Al-Qur’an, Hadis, Kurikulum STEAM Qur’ani, dan Teori Perkembangan Anak)
Tanggung jawab merupakan karakter dasar yang harus ditanamkan sejak usia taman kanak-kanak karena pada fase ini anak mulai memahami diri, peran sosial, serta hubungan sebab-akibat dari setiap perilaku. Anak usia 4–6 tahun berada pada tahap perkembangan di mana mereka mulai mampu mengikuti aturan sederhana, menyelesaikan tugas kecil, dan belajar dari konsekuensi yang dialaminya. Oleh karena itu, PG-TK Al Irsyad menanamkan sikap tanggung jawab melalui kegiatan sehari-hari yang konkret, berulang, dan menyenangkan, sesuai dunia anak.
Dalam perspektif Islam, tanggung jawab berkaitan erat dengan konsep amanah. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia” (QS. Al-Ahzab: 72). Ayat ini menjadi landasan bahwa manusia termasuk anak perlu dibimbing untuk mengenal dan menjalankan amanah sesuai kapasitasnya. Pada anak usia TK, amanah diwujudkan melalui tanggung jawab sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an juga menegaskan: “Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS. Al-Muddatsir: 38). Ayat ini relevan dalam pendidikan anak usia dini karena anak mulai belajar bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Melalui pembiasaan yang konsisten, anak dibantu memahami konsep tanggung jawab secara konkret dan bermakna.
Di PG-TK Al Irsyad, tanggung jawab anak dilatih melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti memberi salam, membaca doa, menunggu giliran (antre), memakai sepatu sendiri, menyimpan tas, menggunakan alat belajar dengan tertib, serta merapikan mainan setelah digunakan. Kegiatan-kegiatan tersebut dirancang untuk membangun fondasi keimanan, akhlak, dan kemandirian anak sejak dini, sesuai dengan visi PG-TK Al Irsyad sebagai sekolah Islam modern dengan pendidikan holistik Qur’ani yang ceria dan ramah anak.
Metode pembiasaan di PG-TK Al Irsyad mengintegrasikan keteladanan (modeling), rutinitas harian, dan penguatan positif, yang dilaksanakan dalam kerangka Kurikulum STEAM Qur’ani Play & Learn. Guru secara konsisten mencontohkan perilaku bertanggung jawab seperti mengucapkan salam dengan sopan, berdoa dengan khusyuk, menunggu giliran dengan tertib, serta merapikan mainan setelah bermain. Anak belajar terutama melalui peniruan, sehingga keteladanan guru menjadi kunci utama. Pendekatan ini selaras dengan teori belajar sosial Bandura yang menyatakan bahwa perilaku anak terbentuk melalui observasi terhadap figur signifikan (Bandura, 1977).
Dalam konteks STEAM, aktivitas merapikan mainan juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, mengelompokkan, dan memecahkan masalah, misalnya saat anak mengelompokkan balok berdasarkan warna atau bentuk. Penguatan positif diberikan berupa pujian atas usaha dan inisiatif anak, bukan hukuman atau kompetisi.
Pembiasaan tanggung jawab dilaksanakan sepanjang rangkaian kegiatan harian anak. Sejak datang ke sekolah, anak dibiasakan mengucapkan salam kepada guru dan teman. Doa dibaca pada awal dan akhir kegiatan belajar, sebelum dan sesudah makan, serta sebelum pulang sekolah. Pembiasaan antre dilakukan saat anak mencuci tangan, mengambil alat belajar, mengambil makanan, dan bermain di sentra STEAM. Konsistensi waktu pelaksanaan membantu anak memahami bahwa tanggung jawab merupakan bagian dari setiap aktivitas, bukan hanya pada momen tertentu.
Pembiasaan dilaksanakan di seluruh lingkungan PG-TK Al Irsyad sesuai fungsi ruang. Salam dibiasakan di gerbang sekolah, koridor, dan ruang kelas. Doa dilakukan di ruang kelas, serta ruang perpustakaan yang difungsikan sebagai ruang sholat. Pembiasaan antre dan merapikan mainan dilakukan di sentra bermain, area cuci tangan, dan ruang aktivitas STEAM. Dengan demikian, anak memahami bahwa sikap bertanggung jawab berlaku di mana saja, tidak terbatas pada ruang kelas formal.
Pembiasaan salam, doa, dan antre dipilih karena ketiganya merupakan sarana efektif untuk melatih tanggung jawab anak secara holistik. Salam melatih tanggung jawab sosial dan adab. Doa melatih tanggung jawab spiritual dan kesadaran kepada Allah. Antre melatih kesabaran, disiplin, serta penghargaan terhadap hak orang lain. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt, “Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu” (QS. At-Taubah: 105), yang menanamkan kesadaran bahwa setiap tindakan bernilai dan memiliki konsekuensi. Dari sudut pandang psikologi perkembangan, Erikson menyatakan bahwa anak usia TK berada pada tahap initiative versus guilt, sehingga perlu diberi kesempatan memikul tanggung jawab kecil agar tumbuh rasa percaya diri dan inisiatif (Erikson, 1963). Pendekatan ini juga sejalan dengan teori Piaget yang menekankan pentingnya pengalaman konkret dalam pembelajaran anak usia dini (Piaget, 1952).
Pembiasaan tanggung jawab di PG-TK Al Irsyad dilaksanakan dan diawasi oleh seluruh warga sekolah. Guru kelas berperan sebagai pelaksana utama dan teladan. Guru pendamping membantu pengawasan terutama saat kegiatan transisi dan bermain. Kepala sekolah memastikan kebijakan dan budaya sekolah berjalan konsisten sesuai visi lembaga.
Orang tua dilibatkan sebagai mitra pendidikan agar pembiasaan di sekolah dapat dilanjutkan di rumah. Sinergi ini menjadikan PG-TK Al Irsyad tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga agen perubahan positif bagi keluarga dan masyarakat.
Pembiasaan dilakukan secara bertahap, ramah anak, dan penuh pendampingan. Anak tidak dipaksa, tetapi diarahkan dengan bahasa yang lembut dan sesuai usia. Salam diajarkan melalui contoh dan pengulangan. Doa dipimpin guru dengan penjelasan makna sederhana. Antre dan merapikan mainan dilatih menggunakan tanda visual dan arahan singkat agar anak memahami bahwa menunggu giliran dan mengembalikan mainan adalah bentuk tanggung jawab dan keadilan. Hadis Rasulullah ﷺ: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim) menjadi dasar bahwa setiap anak diberi amanah kecil sesuai kemampuannya. Seluruh pembiasaan ini diarahkan untuk membangun fondasi keimanan dan akhlak sejak dini, mengembangkan seluruh potensi anak melalui pembelajaran STEAM Qur’ani yang menyenangkan, menumbuhkan kreativitas dan cinta lingkungan, serta melatih kemandirian dan inisiatif anak agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan berprestasi.
Category: Image, Uncategorized
Ruang kelas yang menyenangkan untuk anak adalah lingkungan yang aman, nyaman, dan merangsang kreativitas, ditandai dengan pencahayaan alami, sirkulasi udara baik, perabot ergonomis setinggi anak, warna cerah, area penyimpanan rapi, sudut kreatif (baca atau bermain), dekorasi dengan tema yang menarik, sertapembelajaran interaktif yang melibatkan siswa secara aktif, menciptakan suasana positif untuk belajar dan tumbuh berkembang.
Belajar di alam terbuka adalah metode pembelajaran di luar kelas yang memanfaatkan lingkungan alami atau sekitar sebagai media belajar utama, berfokus pada pengalaman langsung, interaktif, dan menyenangkan, untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan hidup, kreativitas, serta hubungan sosial dan emosional siswa secara holistik, dengan mengubah alam dan sekitarnya menjadi laboratorium hidup yang kaya akan sumber belajar. Di PG-TK Al-Irsyad kegiatan eksplorasi alam dan sekitarnya menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman. Anak-anak diajak untuk belajar sambil bermain, memahami proses alam secara langsung, dan tentunya lebih menghargai alam ciptaan Allah.
Belajar di alam terbuka memberikan banyak sekali manfaat untuk anak, mulai dari peningkatan kesehatan fisik motorik dan mental, pengembangan keterampilan kognitif, sosial, dan emosional, hinggapembelajaran kontekstual yang lebih efektif melalui eksplorasi langsung dengan benda nyata, yang membangun kreativitas, rasa ingin tahu, dan kepekaan lingkungan, serta kemandirian anak secara holistik.
Kegiatan di luar ruangan bertujuan untuk mengoptimalkan perkembangan anak, meliputi perkembangan fisik, keterampilan sosial budaya, perkembangan emosi, dan perkembangan intelektual. Oleh karena itu PG-TK Al-Irsyad seringkali melakukan kegiatan belajar di alam terbuka menyesuaikan topic yang sedang dibahas demi mengoptimalkan seluruh aspek dalam perkembangan anak.
PG-TK Al-Irsyad melaksanakan aktivitas di luar ruangan baik di area sekolah seperti kebun sekolah atau kebun binatang mini sekolah, area luar sekolah seperti pantai, transportasi umum kereta api, museum, KBS dan lainnya. Anak-anak mendapatkan pengalaman berharga dengan menjelajahi alam sekitar sekolah.
Mengingat pentingnya perencanaan lingkungan dalam kegiatan luar ruangan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak, guru dan warga sekolah di PG-TK Al-Irsyad harus memberikan perhatian yang cermat terhadap desain dan penggunaan ruang bermain luar ruangan agar anak merasa aman, nyaman, dan senang belajar dan bermain di luar ruangan.
Penerapan belajar di alam terbuka untuk PG-TK melibatkan kegiatan langsung yang memanfaatkan lingkungan alami sebagai media belajar, seperti berkebun, bermain dengan tanah/pasir, observasi hewan kecil, atau membuat karya seni dari bahan alam, dengan guru berperan sebagai fasilitator untuk menstimulasi sensori dan rasa ingin tahu anak secara holistik, memastikan keamanan dan kenyamanan, serta mengintegrasikan metode bermain sambil belajar agar anak lebih aktif, kreatif, dan terhubung dengan alam. PG-TK Al-Irsyad menjadikan kegiatan di luar ruangan sebagai bagian dari rutinitas harian atau mingguan, tidak harus pergi jauh, cukup di kebun sekolah atau area sekitar sekolah, mengajak anak menyentuh tekstur alam, mengamati tumbuhan atau hewan di area sekolah, berkebun, membuat karya dari bahan alam, melakukan eksperimen sederhana, tanya jawab tentang apa yang mereka lihat dan amati di lingkungan sekolah. Dengan menjadikan alam sebagai, kebun sekolah menjadi ruang kelas yang kaya akan pengalaman, memadukan teori dan praktik untuk pendidikan holistik yang tak tergantikan untuk pertumbuhan optimal.
Category: Image, Uncategorized
Anak usia dini adalah manusia yang fitrah diciptakan oleh Allah dengan segala kelebihan dan kelucuannya. Anak-anak akan lebih mudah menyerap dengan apa yang dilihat dan didengar di sekelilingnya dalam kehidupan sehari hari. Karena anak akan mencontoh apa yang dilakukan oleh orang tua dan lingkungan sekitarnya. Keluarga dan lingkungan yang baik menjadi cermin penting dalam menanamkan adab pada anak-anak
Mendidik Adab sejak dini menjadi investasi yang sangat berharga dalam membentuk pribadi yang bertanggung jawab, sehingga menciptakan generasi penerus yang hebat dan tentunya sholih-sholihah. Kita ketahui jika hanya ilmu yang dipentingkan akan terjadi ketimpangan dalam kehidupan ini, karena ilmu pengetahuan tanpa adab akan terjadi kesombongan, perselisihan, dan ketidakpedulian terhadap sesama (orang lain).
Masa kanak-kanak menjadi masa yang sangat penting karena terdapat masa emas (golden age) untuk membentuk pondasi karakter, di masa ini anak-anak lebih mudah menyerap nilai-nilai moral, agama, serta kebiasaan-kebiasaan baik yang akan melekat hingga dewasa. Sehingga penanaman Al-Qur’an juga sangat diperlukan untuk membentuk moral agama, akhlaq mulia, dan pondasi agama yang kuat.
Penanaman pondasi adab dan Al-Qur’an pada anak usia dini bertujuan membentuk karakter Islami yang kuat sejak dini, menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya, serta membekali anak dengan akhlaq yang mulia (sopan santun, hormat, kasih sayang) dan pemahaman agama yang benar agar anak tumbuh menjadi pribadi yang bertaqwa, beriman, cerdas, dan bahagia dunia akhirat tentunya dengan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan.
Adab dan Al-Qur’an penting diajarkan sejak dini karena pada masa anak usia dini mempunyai daya tangkap dan daya ingat yang sangat tinggi, sehingga mudah untuk menerima suatu informasi dan membentuk kebiasaan-kebiasaan yang baik pada mereka. Anak mudah sekali diarahkan dan dibentuk karakternya sehingga ajaran-ajaran serta penanaman nilai-nilai akan melekat kuat sampai dewasa.
Sebenarnya sejak dalam kandungan anak-anak sudah harus dikenalkan dengan Al-Qur’an, seorang ibu saat hamil setiap hari dengan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an insyaallah janin akan mulai juga bereaksi ikut mendengarkan, demikian anak-anak saat usia ideal untuk menghafal Al Qur’an adalah 3 – 7 tahun, karena usia dini merupakan saatnya anak-anak sangat bersemangat. Permulaan dini ini menjadikan pembelajaran Al-Qur’an adalah sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan bagi anak. Demikian juga dengan penanaman adab akan menumbuhkan disiplin diri, nilai-nilai moral, spiritual yang dijalankan dalam kehidupan anaak-anak setiap hari akan dibawa sampai seumur hidup. Karena kita harus selalu ingat anak usia dini mempunyai rasa ingin tahu dan hasrat yang sangat tinggi untuk meniru siapun yang disekitarnya. Di PG-TK Al-Irsyad Surabaya penanaman adab dan Al-Qur’an diberikan melalui pembelajaran yang menyenangkan dan berkelanjutan. Mulai dari jenjang Playgroup sudah dikenalkan cara melakukan gerakan sholat dengan praktek sholat berjama’ah, bercerita tentang kisah-kisah nabi dan tokoh Islam, hafalan hadist, muroja’ah surat-surat pendek setiap hari. Karena diberikan terus menerus, dengan kebiasaan tersebut anak-anak akan dapat menghafal dan mengingat. Sehingga melatih kognitif, nilai agama, dan moral serta sosial emosional anak anak semakin berkembang.
Category: Image, Uncategorized












