Missing Consumer Key - Check Settings

Month: May 2026

Peran Guru Sebagai Teman Belajar Anak
Peran Guru Sebagai Teman Belajar Anak

Pendidikan pada usia dini merupakan tahap awal yang sangat menentukan dalam perkembangan anak. Pada masa ini, anak mengalami pertumbuhan yang cepat, baik dalam aspek kemampuan berpikir, bahasa, sosial, maupun pembentukan karakter. Anak usia dini juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan belajar melalui pengalaman yang menyenangkan. Oleh sebab itu, lingkungan belajar yang nyaman dan penuh dukungan sangat dibutuhkan agar proses tumbuh kembang anak berlangsung secara optimal.

Di lingkungan sekolah, guru memegang peranan penting dalam mendampingi proses belajar anak. Ketika guru mampu menjadi teman belajar bagi anak, suasana belajar akan terasa lebih menyenangkan dan tidak menegangkan.

Kedekatan emosional antara guru dan anak memberi pengaruh besar terhadap semangat belajar anak. Anak yang merasa diterima dan diperhatikan biasanya lebih berani berpendapat, aktif mengikuti kegiatan, serta lebih mudah membangun rasa percaya diri. Hubungan yang positif ini juga membantu anak merasa aman saat berada di sekolah.

Peran guru sebagai teman belajar dapat diwujudkan melalui beberapa hal berikut.

1. Menjadi Contoh dalam Bersikap

Pada usia dini, anak cenderung belajar dengan cara meniru perilaku orang di sekitarnya. Sikap guru yang santun, sabar, jujur, dan penuh perhatian akan menjadi contoh nyata bagi anak dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, perilaku guru memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter peserta didik.

2. Mendampingi Perkembangan Sosial dan Emosi Anak

Guru membantu anak belajar memahami perasaan, menghargai teman, dan bekerja sama saat bermain maupun belajar bersama. Ketika terjadi perselisihan kecil antaranak, guru dapat membantu mereka mencari solusi dengan cara yang baik sehingga anak belajar menyelesaikan masalah tanpa kekerasan atau kemarahan.

3. Memberikan Semangat dan Dukungan Positif

Setiap anak membutuhkan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan. Kalimat sederhana seperti apresiasi terhadap gambar, keberanian tampil, atau usaha anak saat belajar dapat meningkatkan motivasi mereka. Dukungan positif membuat anak lebih percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

4. Menjadi Pendengar yang Baik

Guru yang mau mendengarkan cerita dan pendapat anak akan membuat anak merasa dihargai. Dengan pendekatan yang hangat, anak menjadi lebih nyaman untuk berbicara, bertanya, maupun menyampaikan perasaannya kepada guru.

5. Menyediakan Kegiatan Belajar yang Menarik

Pembelajaran untuk anak usia dini perlu dikemas melalui aktivitas yang menyenangkan, seperti bermain, bernyanyi, bercerita, atau bermain peran. Melalui kegiatan tersebut, anak dapat belajar banyak hal tanpa merasa terbebani.

Selain mendukung proses belajar, guru juga memiliki peranan penting dalam membantu tumbuhnya rasa percaya diri pada anak. Sikap hangat dan perhatian yang diberikan guru dapat membuat anak yakin bahwa dirinya mampu dan berharga. Anak yang percaya diri umumnya lebih mudah beradaptasi, berani mencoba pengalaman baru, dan tidak mudah menyerah.

Kepercayaan diri anak berkembang dari pengalaman positif yang mereka peroleh setiap hari. Ketika anak diberi kesempatan untuk tampil, menjawab pertanyaan, atau menunjukkan hasil karyanya, mereka akan merasa bangga terhadap kemampuan diri sendiri. Sebaliknya, perlakuan yang meremehkan atau terlalu sering membandingkan anak dengan orang lain dapat membuat rasa percaya dirinya menurun.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan rasa percaya diri anak, antara lain:

  1. Memberikan apresiasi atas usaha anak.
  2. Memberi kesempatan mencoba pengalaman baru.
  3. Mengajak anak belajar menentukan pilihan sederhana.
  4. Menunjukkan contoh perilaku yang positif.
  5. Menjalin komunikasi yang terbuka dan hangat.

Anak yang tumbuh dengan rasa percaya diri yang baik biasanya lebih mandiri, berani mengemukakan pendapat, dan mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Mereka juga cenderung memiliki sikap optimis dalam menghadapi tantangan.

Dengan demikian, keberadaan guru sebagai teman belajar memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak usia dini. Guru tidak hanya membantu anak memahami pelajaran, tetapi juga menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan keyakinan dalam diri mereka. Melalui hubungan yang penuh perhatian dan kasih sayang, sekolah dapat menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak untuk belajar dan berkembang menjadi pribadi yang baik di masa depan.

Al-Irsyad STEAM Qur’ani 2026: Wadah Kolaborasi, Kreativitas, dan Berpikir Kritis Peserta Didik
Al-Irsyad STEAM Qur’ani 2026: Wadah Kolaborasi, Kreativitas, dan Berpikir Kritis Peserta Didik

Sabtu, 9 Mei 2026, Yayasan perguruan Al-Irsyad Surabaya sukses melaksanakan kegiatan Al-Irsyad STEAM Qur’ani, Project Showcase and Sharing dengan mengusung tema “Mandiri Berkarya dan Berpikir Kritis untuk Membangun Daya Saing Global”. Kegiatan ini diikuti oleh sekolah Al-Irsyad mulai dari jenjang TK, SD, SMP, SMA dan SMK. Kegiatan dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Ibu Febrina Kusumawati, S.Si, M.M., Kepala Sekolah dan Guru sekitar.

Kegiatan festival ini berhasil menampilkan kegiatan yang seru, mulai dari Project Presentation, Project Showcase, Student Performance, dan Teacher Sharing. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wadah kepada peserta didik dan guru untuk berpikir kritis, berkomunikasi, mengembangkan kreativitas, serta pemanfaatan teknologi yang tepat dalam pembelajaran.

Gethuk Scratch Adventure” merupakan pembelajaran STEAM Qur’ani yang diusung oleh peserta didik dan guru dari jenjang TK Al-Irsyad. Siswa-siswi TK Al-Irsyad belajar mengenal bahan utama singkong sebagai bahan yang telah tersedia di alam, merupakan nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.  Kita sebagai manusia hendaknya bersyukur atas nikmat yang telah diberikan, adapun salah satu caranya yaitu dengan mengolahnya menjadi makanan yang sehat.

Dalam proses pengolahan singkong menjadi makanan tradisional Gethuk, peserta didik belajar tentang Sains, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics. Tidak hanya itu, pembelajaran yang seru menggunakan Game Scratch, menjadi media recalling bagi peserta didik untuk mengingat apa saja bahan yang diperlukan untuk membuat gethuk.

Pada Project Presentation, siswa TK Al-Irsyad tampil percaya diri mempresentasikan pembelajaran STEAM Qur’ani yang telah mereka pelajari dan praktikkan di sekolah. Mereka mengajak para undangan yang hadir untuk mengenal makanan tradisional dengan cara yang kreatif dan menyenangkan.  Panggung turut dimeriahkan dengan Student Performance.

Di sisi lain, stand Project Showcase dikunjungi oleh siswa, guru, dan para undangan yang telah hadir. Dengan senyum ceria dan cekatan, peserta didik mempersilahkan para pengunjung untuk mencicipi gethuk, dan kuliner berbahan dasar singkong lainnya. Game Scratch juga menjadi daya tarik bagi para pengunjung untuk mencoba. Dengan lihai, peserta didik menyampaikan bagaimana cara memainkan game tersebut berbekal pengalamannya saat belajar di sekolah.

Sesi Teacher Sharing menjadi sarana bagi guru-guru Al-Irsyad untuk berbagi praktik baik mengenai pembelajaran STEAM Qur’ani kepada kepala sekolah dan pendidik sekitar. Guru saling bertukar pengalaman, strategi pembelajarann, dan inovasi pembelajaran agar kegiatan belajar menjadi pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.  Dengan menerapkan pembelajaran STEAM Qur’ani, diharapkan dapat meningkatkan budaya belajar yang kreatif, inovatif, dan berlandaskan pada nilai-nilai islam. Serta siap untuk menghadapi tantangan global dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Qur’ani.